MENEROPONG PEMBAHARUAN DALAM ISLAM

 

Permulaan abad 19 M boleh dikatakan sebagai awal terjaganya umat Islam setelah sekian lamanya mereka terpuruk dalam keputus asaan dan tenggelam dalam stagnansi keilmuan. Abad itu ditandai dengan adanya kesadaran keterbalikan sejarah di kalangan umat Islam. Sebelumnya umat Islam adalah produsen peradaban yang berkembang sampai ke barat khususnya Andalusia yang sekarang dikenal dengan Spanyol. Sebelum abad 19 M, para filsuf, ilmuwan, dan insinyur dari Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Paling tidak terdapat enam data sejarah sebagai indikator kunci yang menunjukan kejayaan paradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah, Bani Fatimiyah, dan Bani Umayyah di Andalusia. Pertama, gerakan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan (sains), sastra dan filsafat dari beberapa bahasa seperti Yunani, Mesir, Persia dan India ke dalam bahasa Arab. Kedua, kemajuan di bidang filsafat yang ditandai dengan lahirnya para filsuf Muslim seperti Al Farabi (870-950 M), Ibnu Sina (980-1037 M), dan Al Ghazali (wafat 1111 M). Menurut Phillip K. Hitti, sumbangan terpenting peradaban Arab dan Islam di bidang filsafat kepada dunia adalah usaha peradaban Arab dan Islam dalam menyelaraskan alam pikiran Yunani dengan buah pikiran Islam. Ketiga, lahirnya pusat-pusat keilmuan Islam seperti Baghdad (Irak), Kairo (Mesir), dan Cordova (Andalusia/Spanyol). Keempat, berkembangnya disiplin-disiplin keilmuan baik ilmu-ilmu kealaman (sains), kemasyarakatan (sosial dan humaniora), maupun ilmu-ilmu keagamaan. Kelima, berkembangnya seni bangunan (arsitektur) yang indah dan megah. Keenam, aktivitas perekonomian berkembang pesat baik pertanian, perdagangan maupun industri[1]. Dengan berbagai kemajuan ini, ada semacam perasaan superioritas di kalangan umat Islam akibat kegemilangan peradaban sebagai era pencerahan (‘aṣr al-tanwīr) yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sayangnya, perasaan superioritas ini justru membawa mereka kepada kemunduran.

Perkembangan peradaban kemudian bergeser ke dunia barat dengan bekal pencerahan yang diberikan oleh dunia Islam. Kondisi kemudian terbalik. Namun sejak permulaan abad 19 M tersebut dunia Islam seakan menemukan dunia baru. Mereka mulai menyadari bahwa ternyata etos membangun peradaban itu telah berpindah ke barat. Dunia Islam ingin kembali merebutnya atau paling tidak untuk menolong mereka dari keterpurukannya. Umat Islam melakukan perenungan yang mendalam tentang perpindahan kiblat peradaban ini padahal Islam itu unggul dan tidak yang meengunggulinya (al-Islām ya’lū wa-lā yu’lā ‘alayh). Dengan memandang perkembangan peradaban yang terjadi di bumi belahan barat ini, maka sebagian umat Islam mulai melakukan pengkajian dimana letak kesalahan umat Islam sehingga mereka mengalami kemunduran. Apakah kemunduran dunia Islam ini terletak pada esensi agamanya ataukah terletak pada visi kebudayaannya. Dengan semangat mengembalikan kejayaan Ummat Islam, para ilmuan Muslim mulai melakukan perenungan dan kajian kemudian menuangkannya dalam ebuah konsep dan diatasnya mereka melakukan aksi nyata dalam rangka membuat perubahan-perubahan. Upaya inilah yang disebut pembaharuan dalam Islam.

Dalam konteks ini, pembaruan dianggap sebagai terjemahan dari kata Arab tajdid[2]. Di samping term tajdid, terkait dengan pembaruan keagamaan dalam Islam, sebenarnya dikenal pula istilah ishlah dengan makna perubahan (dalam konteks perbaikan), yang pada level operasional di lapangan lebih menampakkan dalam bentuk gerakan purifikasi atau pemurnian Islam[3]. Berpangkal pada pemaknaan ontologis terhadap dua term ini, tajdid dan ishlah, kemudian di kalangan pemikir Islam terjadi perbedaan dalam memberikan arti konsepstual terhadap istilah pembaruan Islam itu: di satu pihak ada sebagian yang melakukan pemilahan secara ketat antara konsep pembaruan (tajdid) dengan ishlah (perubahan, perbaikan dalam makna pemurnian), tetapi ada pula sebagian lainnya yang mengiklusikan makna perbaikan-pemurnian (ishlah) ke dalam konsepsi pembaruan Islam. Dari uraian ini, bisa disimpulkan bahwa pembaruan Islam adalah segala usaha umat Islam, baik berupa fikiran maupun gerakan, untuk merubah dan menyesuaikan faham-faham atau pemikiran keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern Barat. Berkaitan dengan ini, menurut Din Sjamsudin, pembaruan Islam merupakan rasionalisasi pemahaman Islam dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan Islam[4].

Sebagian umat Islam melihat bahwa inti peradaban itu sudah ada dalam bangunan ajaran Islam akan tetapi umat Islam tidak mampu menggali potensi peradaban itu. Oleh karena itu, diperlukan para tokoh yang melakukan gerakan baru yang kemudian disebut tokoh-tokoh perbaikan (zu’amā’ al-iṣlāḥ)[5]. Sebagian lagi berpandangan  bahwa kemunduran yang diderita umat Islam sesungguhnya tidak hanya terletak pada gerakan akan tetapi adalah pada etos pemikirannya. Untuk itu maka perlu dilakukan gerakan membangun kembali pola berpikir umat Islam yang diawali dari aspek teologi kemudian berkembang kepada pemikiran pranata sosial Islam[6].

Kesadaran baru terhadap keterpurukan dunia Islam pada dasarnya berkembang pada empat wilayah pemikiran dan gerakan. Semenanjung Arabia dipelopori oleh Muhammad b. Abd al-Wahhab yang lebih dikenal dengan Gerakan Wahabi[7]. Inti gagasannya adalah memutus mata rantai Islam dengan tradisi sinkretisme yang berkembang semasa zaman jahiliyah. Oleh karena itu Ia melakukan tindakan keras dalam upaya memurnikan ajaran Islam. Akan tetapi disayangkan, tindakan tersebut dapat memutus mata rantai kesejarahan Islam sehingga bisa memunculkan pandangan generasi kemudian bahwa Islam itu adalah sesuatu yang tidak berdasar dari sudut kontinuitas sejarah. Kawasan kedua adalah Turki yang memulai melakukan rekonstruksi pemikiran Islam melalui reorganisasi militer karena kekolotan akibat dari kolaborasi antara pihak militer dengan lembaga tarekat. Oleh karena itu jaringan hubungan antara dua kekuatan ini harus diputus untuk selanjutnya dilakukan langkah rekonstruksi terhadap bidang lain termasuk politik, pendidikan, hukum dan sebagainya. Kawasan ketiga adalah Mesir yang lebih mengembangkan gerakan pembaruan yang lebih konsepsional akibat adanya dukungan lembaga universitas yang berwibawa yaitu Universitas al-Azhar. Kawasan keempat adalah anak benua India. Persoalan utama yang dihadapi negeri ini adalah konflik internal di kalangan umat Islam akibat perbedaan mazhab baik dalam bidang akidah, fikih dan tasawuf. Perbedaan yang terjadi sampai  berkembang kepada penilaian keimanan seseorang. Selain dari itu, persoalan lain yang dihadapi mereka adalah persaingan dengan umat Hindu yang ingin melakukan pembakaran akibat kekakalahan politik yang mereka alami akibat ekspansi kerajaan-kerajaan kecil di anak benua India. Atas dasar itu, maka format pembaruan pemikiran di India lebih liberal dibanding dengan Mesir akibat tantangan yang meraka hadapi baik internal maupun eksternal.

 



[1] M. Masyhur Amin, Dinamika Islam (Sejarah Transformasi dan Kebangkitan, (Yogyakarta: LKPSM, 1995), 47 – 50.

[2] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 12; Djohan Effendi, Pembarun Tanpa Membongkar Tradisi (Jakarta: Kompas, 2010), 79.

[3] Untuk pembahasan mengenai pengertian dan sejarahnya, antara lain dapat dibaca: John O. Voll, “Pembaharuan dan Perubahan dalam Sejarah Islam: Tajdid dan Ishlah”, dalam John L. Esposito (Ed.), Dinamika Kebangunan Islam: Watak, Proses dan Tantangan (Jakarta: Rajawali Press, 1987), 21-42.

[4] Lihat: Voll, “Pembaruan dan Perubahan dalam Sejarah Islam: Tajdid dan Islah”, dalam John L. Esposito (ed.), Dinamika Kebangunan Islam, 22.

[5] Ahmad Amin menyebut tokoh-tokoh tersebut dengan zu’ama al-islah dan menulis sebuah buku yang membahas tokoh-tokoh pembaruan pemikiran Islam. Ahmad Amin, Zu‘ama’ al-Islah fi al- ‘Asri al-Hadith (Kaherah: Maktabah alNahdah al-Misriyah, 1979)

[6] Gagasan melakukan rekonstruksi pemikiran Islam dilakukan Syed Jamaluddin Al-Afgani di Mesir setelah melakukan kontak kebudayaan dengan pemikiran barat dan Syed Muhammad Iqbal dari anak benua India memperkenalkan konsep dinamika dalam ajaran Islam.

[7] Kelompok ahlu sunnah waljamaah di anak benua India menurut Ahmad Khan terbagi dua: satu kelompok mirip Yahudi sangat puritan dan yang satu lagi Katholik Roma yang banyak menganut bidah. Kelompok pertama sangat mencurigai alam oleh karena itu tidak memberikan tempat terhadap alam hati yang bisa menimbulkan berhala internal. Sedang kelompok kedua berupaya menjadikan segala hal yang ada di alam semesta sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selanjutnya lihat Mazheruddin Siddiqi, Modern Reformist Thought in The Muslim World (New Delhi: Adam Pusblishers & Distributors, 1993), 5.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KLASIFIKASI FI'IL PART 1

KLASIFIKASI HURUF PART 1

ALBIDAYAH WAN NIHAYAH DAN IBNU KATSIR