KLASIFIKASI FI'IL PART 1
Fiil yang di dalam Bahasa Indonesia sering di asosiasikan dengan kata kerja itu sebenarnya bukanlah ansich kata kerja. Seperti fiil amar, itu dalam Bahasa Indonesianya adalah kata perintah, jadi bukan kata kerja. Pengasosian tersebut sebenarnya hanya untuk memudahkan saja, karena pada kenyataannya memang mayoritas jenis fiil itu adalah kata kerja. Fiil yang bisa diartikan dengan kata kerja itu sebenarnya adalah hanya sebagian dari jenis fiil saja. Pada kenyataannya, fiil dibagi menjadi banyak sekali jenisnya, tergantung dari sudut pandangnya. Pembagian ini bisa dilihat dari sudut pandang waktu kejadiannya, bangunan (bina) huruf akhirnya, dari penyusunnya, dari subjeknya, dari objeknya, dari tashrifnya (berubahnya fi'il menjadi fi'il lain), dari perubahannya (berubahnya harakat akhir fi'il) dsb.
Karena materi
kita adalah dari dasar, oleh karenanya disini kita akan membahas dasarnya
dahulu, yaitu fiil dilihat dari sudut pandang waktu kejadiannya. Dilihat dari
sudut pandang waktu kejadiannya, fiil dibagi menjadi tiga yaitu:
1.
Fi’il Madliy (فعل ماضي)
Secara Bahasa, Fi’il Madliy (فعل ماضي) adalah “kata kerja yang lampau”, maksudnya kata kerja yang
menunjukan masa lampau. Jadi, setiap kejadian yang terjadi di masa lampau maka
itulah yang dimaksud dengan Fi’il Madliy (فعل ماضي).
Misalnya :
قَرَأْتُ الكِتَابَ
“saya membaca buku”
Kata “قرأ” pada kalimat
di atas termasuk kalimat fiil madhi karena kegiatan membacanya dilakukan pada
masa yang sudah lewat dan sekarang sudah tidak sedang membaca lagi.
Fi’il Madliy (فعل ماضي) bisa diketahui dengan paling tidak enam cara yaitu:
Pertama, Dengan mengetahui artinya berdasarkan konteks sebelumnya (siyaqul
kalam; سياق الكلام).
Contoh: ندمت قد أحببتك (saya menyesal telah mencintaimu). Kata ندمت yang artinya saya menyesal ini jelas
menunjukkan masa lampau, karena menyesal pasti setelah melakukan pekerjaan.
Kedua, dilihat dari bentuk wazan (وزن) nya. Karena setiap kalimat fiil memiliki bentuk wazan (وزن) masing-masing yang berbeda-beda, akan tetapi untuk mengetahui
bentuk wazan (وزن) tersebut kita harus
mempelajari ilmu sharaf (صرف) insyaallah akan kita
bahas pada tulisan selanjutnya.
Ketiga, dengan melihat harokat huruf
akhirnya. Fi’il Madliy (فعل ماضي) huruf akhirnya selamanya di
fathah-kan.
Contoh; نَصَرَ ; عَلِمَ ; ضَرَبَ ; حَسُنَ ; اَكْرَمَ
Perlu diketahui bahwa yang dimaksud
dengan di fathah-kan huruf akhirnya ialah fathah secara lafadz, seperti contoh
di atas, dan fathah secara perkiraan, seperti: رَمَى، دَعَى،
نَهَى ; fathah akhir yang
diperkirakan juga bilamana fi’il madzinya bertemu dengan dhamir rafa’ (dhamir
yang dirafa’kan) karena menjadi fa’ilnya, seperti; عَرَفْتُ، نَصَرْتُ،
Keempat, Bisa dimasuki قَدْ (bermakna sungguh).
contoh: قد قرأت (saya SUNGGUH telah
membaca)
Kelima, Bisa dimasuki huruf ta' ta'nis (تاء التئنيث ) yaitu ta' yang menunjukkan arti perempuan) contoh: كَتَبَتْ (DIA PEREMPUAN telah
menulis)
Keenam, Bisa dimasuki ta' Fa'il (تأ فاعل) yaitu huruf ta' yang menunjukkan arti subyek. Contoh: كتبت (SAYA telah menulis)
2.
Fi’il Mudlori’ (فعل مضارع)
Fiil mudhori’ (فعل مضارع) adalah kata kerja yang menunjukan bahwa pekerjaan tersebut
sedang atau akan dilakukan. Semisal kita hendak mengatakan suatu ungkapan
“Muhammad sedang membaca al-Quran”. Nah ungkapan tersebut bila tertulis dengan
kalimat berbahasa arab maka menggunakan fiil mudhori’.
Contoh: يَكْتُبُ مُحَمَّدٌ
القُرأَنَ
Fiil mudlori’ bisa dikenali paling
tidak dengan enam ciri atau tanda senagai berikut:
Pertama, huruf mudloro’ah (مضارعة). Huruf mudhoroah
sebagai ciri utama dari fiil mudhori’ berjumlah empat huruf yaitu: أ، ن، ي، ت atau biasanya disingkat menjadi
dibaca أَنَيْتُ
Huruf mudhoroah hamzah dipakai untuk mutakallim (متكلم =pembicara orang pertama) bermakna aku. Contoh: أكتب (saya akan/ sedang menulis)
Huruf mudhoroah nun digunakan digunakan untuk mutakallim ma'al ghoir (متكلم مع الغير = pembicara orang pertama jamak) bermakna kami/kita. Contoh: نَكْتُبُ (kami akan/sedang menulis)
Huruf mudhoroah ya’ digunakan untuk ghoib mudzakar (orang ketiga laki-laki baik
tunggal, berdua/ jamak). Bermakna dia atau mereka. Contoh:
يَكْتُبُ : dia (laki-laki satu) sedang/akan menulis
يَكْتُبَانِ : dia (laki-laki dua
orang) sedang/akan menulis
يَكْتُبُوْنَ : mereka (laki-laki
banyak orang) sedang/akan menulis
Huruf mudhoroah ya’ Juga digunakan untuk menunjukan
orang ketiga perempuan jamak (mereka perempuan). Contoh:
يَكْتُبْنَ : mereka (perempuan
banyak) sedang/akan menulis
Huruf mudhoroah ta’ dipakai untuk mukhotob (مخاطب = orang yang diajak bicara) secara mutlaq (engkau laki-laki
satu, engkau laki-laki dua, engkau laki-laki banyak/kalian laki-laki, engkau
perempuan satu, engkau perempuan dua, engkau perempuan banyak/kalian
perempuan). Contoh:
تَكْتُبُ : kamu (satu laki-laki)
sedang/akan menulis
تَكْتُبَانِ : kamu (laki-laki dua
orang) sedang/akan menulis
تَكْتُبُوْنَ : kalian (laki-laki
banyak) sedang/akan menulis
تَكْتُبِيْنَ : kamu (perempuan satu)
sedang/akan menulis
تَكْتُبَانِ : kamu (perempuan dua
orang) sedang/akan menulis
تَكْتُبْنَ : kamu (perempuan
banyak) sedang/akan menulis
Huruf mudlora'ah ta' juga dipakai
untuk menunjukan orang ketiga perempuan tunggal (dia perempuan satu) dan orang
kedua dua orang perempuan (dia dua orang perempuan). Contoh:
تَكْتُبُ : Dia (satu perempuan)
sedang/akan menulis
تَكْتُبَانِ : Dia (dua orang
perempuan) sedang/akan menulis
Kedua, Dapat didahului huruf سَوْفَ (artinya akan, dalam waktu yang lama)
Contoh: سوف اكتب (saya akan menulis)
Ketiga, Dapat didahului huruf سَ (artinya akan, dalam waktu dekat)
Contoh: سكتب (saya akan menulis)
Keempat, Dapat didahului huruf لَنْ (artinya tidak akan)
Contoh: لن أكتب (saya tidak akan menulis)
Kelima, Dapat didahului huruf لَمْ (artinya belum)
Contoh: لم أكتب (saya belum menulis)
Keenam, Dapat didahului huruf قد (artinya terkadang)
Contoh: قد أكتب (terkadang saya menulis)
3.
Fiil Amar (فعل
أمر)
Fiil Amar (فعل أمر) adalah kata yang menunjukkan arti perintah. Secara ringkas, fiil amar bisa diketahui dengan paling tidak dua ciri atau tanda yaitu:
Pertama, Huruf akhirnya disukun (ada pengecualiannya dan akan kita bahas di pertemuan selanjutnya). Contoh: اُكْتُبْ (tulislah)
Kedua, diakhiri dengan nun taukid ( نون توكيد = huruf nun yang menunjukkan arti sungguh-sungguh). Contoh: اُكُتُبنَّ (sungguh tulislah)
Komentar
Posting Komentar