ORGANISASI-ORGANISASI ISLAM MENJELANG KEMERDEKAAN
1. Jamiyyat Kheir,
Batavia (1901)
Jamiatul Kheir sebagai suatu perkumpulan jauh sebelum tahun
1919 telah terbentuk dan bermula berada di Pekojan, yang merupakan suatu
yayasan atau perkumpulan sosial dan menampung semua aspirasi baik Al-Alawiyyin,
Al Masyaikh dan Al-Ajami, kemudian tanggal 27 Desember 1928 izin pertama
berdirinya Al Arabithah AlAlawiyyah dari pemerintah Belanda, dan izin kedua 27
November 1929. Pada awal mula didirikan tahun 1901 M, Organisasi Jamiat Kheir
lebih bersifat organisasi sosial kemasyarakatan, dimana tujuan awalnya dapat
disimpulkan sebagai berikut. Pertama, membantu fakir miskin, baik dalam segi
material maupun spiritual. Kedua, mendidik dan mempersiapkan generasi muda
Islam untuk mampu berperan pada masa depan. Dan yang ketiga, menolong ummat
yang lemah dalam sektor ekonomi. Berdirinya madrasah Jamiat Kheir berdasarkan
akta notaris J.W.Roeloffs Valks Notaris Batavia, nomor 143 tertanggal 17
Oktober 1919 dalam akta STICHTINGSBRIEF der STICHTING "SCHOOL DJAMEAT
GEIR" dengan susunan pengurus pertamanya, sebagai ketua Said Aboebakar bin
Alie bin Shahab dan sebagai anggota-anggota pengurus lainnya adalah: Said
Abdulla bin Hoesin Alaijdroes, Said Aloei bin Abdulrachman Alhabsi, Said Aboebakar
bin Mohamad Alhabsi, Said Aboebakar bin Abdullah Alatas, Said Aijdroes bin
Achmad bin Shahab dan Sech Achmad bin Abdulla Basalama (semua dalam ejaan
aslinya dalam akta tersebut).
2. Sarekat Dagang Islam (SDI), Surakarta (1905)
Pada kongres pertama SDI di Solo tahun 1906, namanya ditukar
menjadi Sarikat Islam. Selanjutnya karena perkembangan politik dan
sosial SI bermetamorfosis menjadi organisasi pergerakan yang telah beberapa
kali berganti nama yaitu Central Sarekat Islam (disingkat CSI) tahun 1916,
Partai Sarekat Islam (PSI) tahun 1920, Partai Sarekat Islam Hindia Timur
(PSIHT) tahun 1923, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) tahun 1929, Syarikat
Islam (PSII) tahun 1973, dan pada Majlis Tahkim (kongres nasional) ke-35 di
Garut tahun 2003, namanya diganti menjadi Syarikat Islam (disingkat SI). Sejak
kongres tersebut eksistensi dan pergerakan Syarikat Islam yang masih ada dan
tetap bertahan hingga sekarang disebut Syarikat Islam. Sejak Majlis Tahkim
ke-40 di Bandung pada tahun 2015 telah mengukuhkan Dr. Hamdan Zoelva, SH., MH.
sebagai Ketua Umum Laznah Tanfidziyah. Melalui keputusan tertinggi organisasi
tersebut, Syarikat Islam kembali ke khittahnya sebagai gerakan dakwah ekonomi.
SI PUTIH DAN SI
MERAH
SI
Putih (H. Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo) berhaluan kanan berpusat di kota Yogyakarta.
Sedangkan SI Merah (Semaoen, Alimin, Darsono) berhaluan kiri berpusat di kota Semarang. Sedangkan HOS Tjokroaminoto pada mulanya adalah
penengah di antara kedua kubu tersebut. Jurang antara SI Merah dan SI Putih
semakin melebar saat keluarnya pernyataan Komintern (Partai
Komunis Internasional) yang menentang cita-cita Pan-Islamisme. Pada saat
kongres SI Maret 1921 di Yogyakata, H. Fachruddin,Wakil Ketua Muhammadiyah mengedarkan brosur yang
menyatakan bahwa PAN-Islamisme tidak akan tercapai bila
tetap bekerja sama dengan komunis karena keduanya memang bertentangan. Di
samping itu Agus Salim mengecam SI Semarang yang mendukung PKI. Darsono membalas
kecaman tersebut dengan mengecam beleid (Belanda: kebijaksanaan) keuangan Tjokroaminoto. SI Semarang juga menentang pencampuran
agama dan politik dalam SI. Oleh karena itu, Tjokroaminoto lebih condong ke SI
haluan kanan (SI Putih).
Pecahnya
SI terjadi setelah Semaoen dan Darsono dikeluarkan dari organisasi. Hal ini ada
kaitannya dengan desakan Abdul Muis dan Agus Salim pada kongres SI yang keenam
6-10 Oktober 1921 tentang perlunya disiplin partai yang melarang keanggotaan
rangkap. Anggota SI harus memilih antara SI atau organisasi lain, dengan tujuan
agar SI bersih dari unsur-unsur komunis. Hal ini dikhawatirkan oleh PKI
sehingga Tan Malaka meminta pengecualian bagi PKI. Namun usaha ini tidak
berhasil karena disiplin partai diterima dengan mayoritas suara. Saat itu
anggota-anggota PSI dari Muhammadiyah dan Persis pun turut pula dikeluarkan,
karena disiplin partai tidak memperbolehkannya. Keputusan mengenai disiplin
partai diperkuat lagi dalam kongres SI pada bulan Februari 1923 di Madiun.
Dalam kongres Tjokroaminoto memusatkan tentang peningkatan pendidikan kader SI
dalam memperkuat organisasi dan pengubahan nama CSI menjadi Partai Sarekat
Islam (PSI). Pada kongres PKI bulan Maret 1923, PKI memutuskan untuk
menggerakkan SI Merah untuk menandingi SI Putih. Pada tahun 1924, SI Merah
berganti nama menjadi "Sarekat Rakyat"
3. Persyarekatan Ulama’, Majalengka, Jawa Barat (1911)
Persyankatan Ulama lahir dari gerakan pembaruan
Islam di Majalengka Jawa Barat, yang dimulai pada tahun 1911, atas inisiatif
Haji Abdul Halim. Haji Abdul Halim lahir di Ciberelang, Majalengka tahun 1887.
Dia menuntut ilmu selama 3 tahun di Mekkah. Enam bulan setelah di kembali dari
Mekkah pada tahun 1811, Halim mendirikan sebuah organisasi yang dia beri nama
Hayatul Qulub, yang bergerak di bidang ekonomi dan pendidikan. Di bidang
ekonomi, organisasi ini bermaksud membantu anggota-anggotanya yang bergerak
dibidang perdagangan dalam persaingan dengan pedagang-pedagang Cina.
4. Muhammadiyah, Yogyakarta (1912)
5. Persatuan Islam (Persis), Bandung (1923)
Persatuan Islam (disingkat Persis atau PERSIS)
adalah sebuah organisasi Islam di Indonesia. Persis didirikan pada 12 September
1923 di Bandung oleh sekelompok Islam yang berminat dalam pendidikan dan
aktivitas keagamaan yang dipimpin oleh Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus.
Persis didirikan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman Islam yang sesuai
dengan aslinya yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan memberikan pandangan berbeda
dari pemahaman Islam tradisional yang dianggap sudah tidak orisinil karena
bercampur dengan budaya lokal, sikap taklid buta, sikap tidak kritis, dan tidak
mau menggali Islam lebih dalam dengan membuka Kitab-kitab Hadits yang shahih.
Oleh karena itu, lewat para ulamanya seperti Ahmad Hassan yang juga dikenal
dengan Hassan Bandung atau Hassan Bangil, Persis mengenalkan Islam yang hanya
bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Organisasi Persatuan Islam telah tersebar di
banyak provinsi antara lain Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, dan Gorontalo.
Persis bukan organisasi keagamaan yang berorientasi politik namun lebih fokus
terhadap Pendidikan Islam dan Dakwah dan berusaha menegakkan ajaran Islam
secara utuh tanpa dicampuri khurafat, syirik, dan bid'ah yang telah banyak
menyebar di kalangan awwam orang Islam.
Komentar
Posting Komentar